Tak ada yang lebih menggoda selain mengecap lumeran putih di sudut bibirmu. Dan sungguh, bila aku punya cukup waktu, akan kulumat seluruhnya untuk memuaskan rinduku.
Singaraja, 31 Mei 2011
Di dalam hatiku adalah tempat aku tinggal, untuk memperbarui semangat dan keceriaanku, bagai sumber mata air yang tak pernah kering (Anonim).
Rabu, 01 Juni 2011
Selusin Muffin Cherry
Musim cherry sering datang terlalu cepat. Ranum merahnya bergelayut tepat di rekah senyummu, beberapa tergesa menggelincir jatuh, seakan mengancamku untuk segera memanen sisanya seperti biasa – dengan bibirku.
Dan apa yang sanggup kulakukan dengan berlimpah cherry di musim ini, sayang? Selain pelan-pelan meramunya dalam adonan, bersama rinduku yang tak bisa diam. Menata mereka rapi dalam pinggan dan menangguhkannya dalam pemanggang.
Selusin muffin cherry tengah menunggumu sebagai hidangan penutup makan malam.
Yogyakarta, 9 Mei 2011
Dan apa yang sanggup kulakukan dengan berlimpah cherry di musim ini, sayang? Selain pelan-pelan meramunya dalam adonan, bersama rinduku yang tak bisa diam. Menata mereka rapi dalam pinggan dan menangguhkannya dalam pemanggang.
Selusin muffin cherry tengah menunggumu sebagai hidangan penutup makan malam.
Yogyakarta, 9 Mei 2011
Rindu yang Kusimpan di Kantung Celanaku
Aku tak pandai bicara, apalagi dengan bahasa sepertimu. Mulutku seolah selalu kelaparan dan berusaha menelan kembali setiap tutur yang ingin kumuntahkan. Dan kelaparan itu bertambah tiga kali lipat saat aku berjumpa denganmu.
“Kau manis” katamu.
Aku hanya tersenyum. Padahal ingin sekali kuungkap betapa senangnya aku. Setahuku laki-laki akan senang bila pujiannya dihargai.
“Kau sudah membaca puisi yang kusertakan di suratku, kan? Kau suka?” tanyamu.
Aku mengangguk dan lagi-lagi hanya tersenyum. Andai kau tahu, sesekali aku ingin bisa menulis bait-bait indah sepertimu untuk mengungkap perasaan yang begitu tak kumengerti. Sebulan tak berjumpa denganmu, hanya cukup memberiku waktu menemukan satu kata saja. Rindu. Kata yang kemudian kutulis hati-hati di selembar kertas. Kusimpan di kantung celana yang paling alpa kubuka. Berharap rindu itu terlupa dan mungkin suatu hari tercuci tanpa sengaja.
Yogyakarta, 29 Maret 2011
“Kau manis” katamu.
Aku hanya tersenyum. Padahal ingin sekali kuungkap betapa senangnya aku. Setahuku laki-laki akan senang bila pujiannya dihargai.
“Kau sudah membaca puisi yang kusertakan di suratku, kan? Kau suka?” tanyamu.
Aku mengangguk dan lagi-lagi hanya tersenyum. Andai kau tahu, sesekali aku ingin bisa menulis bait-bait indah sepertimu untuk mengungkap perasaan yang begitu tak kumengerti. Sebulan tak berjumpa denganmu, hanya cukup memberiku waktu menemukan satu kata saja. Rindu. Kata yang kemudian kutulis hati-hati di selembar kertas. Kusimpan di kantung celana yang paling alpa kubuka. Berharap rindu itu terlupa dan mungkin suatu hari tercuci tanpa sengaja.
Yogyakarta, 29 Maret 2011
Sabtu, 26 Maret 2011
Couple Poems : Tigapuluh Derajat
/1/ Di Tigapuluh Derajat Sudut Waktu Itu (by Ary Dharmayanti)
Jarum panjang kira-kira perlu bergerak tigapuluh derajat lagi sejak pukul delapanbelas tigapuluh. Sudut itu nampaknya pejal seperti batu. Jarum jam sedang tak ingin berputar terburu-buru. Dia lebih suka berbelok, mengolok, dan memutar-mutar kepalaku di ruang tunggu, memindah-mindah mataku dari jarum jam ke telepon selulerku. Kubunuh derajatnya satu demi satu, dengan menghitung berapa kira-kira sudut tinggal landas pesawatmu. Mungkinkah tigapuluh derajat?
Kubentuk sudut tigapuluh derajat antara bibirku dengan sedotan es tehku yang sekarang jadi tanpa es batu. Lebur oleh putaran gelisahku yang jauh lebih pesat daripada waktu.
Suaramu memutar tubuhku tigapuluh derajat. Dan kutemukan tigapuluh derajat jarum jam telah berpindah ke lengkung senyummu yang mistis, di atas sebuah janggut tipis.
Aku ingin berlari memeluk tubuhmu dan menangis. Membentuk sudut tigapuluh derajat lain dengan kepalaku mendongak memandang wajahmu.
Tapi nyatanya kuhanya tersenyum manis.
“Selamat datang, sayang.”
Akan ada lebih dari sekedar tigapuluh derajat waktuku untukmu.
Yogyakarta, 23 Maret 2011
/2/ Tigapuluh Derajat Kita (by Halim Gani Safia)
Perih adalah tigapuluh derajat bengkokan kepala yang tersandar di lenganku, ketika ego terpilin-pilin hingga menggariskan ranah lengkung yang ekuivalen lalu mengabur bak lensa terhilang fokus. Tigapuluh derajat itu kutinggalkan, mengusang serupa kisah padam. Mohonku pada Tuhan, cegah ia bereinkarnasi.
Kemudian tigapuluh derajatmu datang menghambur pada mataku bagai serbuk nirwana, menetaskan telur kemukus bintang di langit malam Jakarta - embrio alpha omega - ditingkahi fortessimo piano - jemari yang mengeram, menggenggami awan jingga bilamana kutata gua.
Tigapuluh derajatmu itu setengah hasta menuju nuansa tak berkasta, ia berlumbung-lumbung, yang disetiapnya ada tari padendang, beralu-alu bak buluh perindu, hendaki menyatu.
Tigapuluh derajat kita serupa kemiringan kerusi ruh, dibibiti rindu, kelak kan beranakpinak dan melahirkan bayi penyair berbibir madu.
Jakarta, 23 Maret 2011
Kunang-Kunang di Gelinang Mataku
: fireflies prince
Kunang-kunang dari matamu itu suka terbang di atas kolam tempat aku sering duduk di tepinya. Kadang-kadang berenang ke dasar kolam. Sesekali juga menyelam di gelinang mataku dan bertelur di sana. Hanya beberapa detik saja, telur kunang-kunang itu pun menetas menghasilkan bermacam rupa. Ada kesepian yang senang menari berputar-putar di kepala. Ada juga rindu berwujud berudu yang saat menggeliat selalu mencambuk-cambuk kelopak mataku dengan ekor panjangnya. Aku menangis berkali-kali. Mereka pun menggelepar keluar bersama air mataku. Kutangkap seekor dan kutelan kembali ke perutku. Kupelihara beberapa waktu sampai ia berubah menjadi katak, melompat lewat kerongkonganku dan menjelma sebuah puisi tentang lindap matamu.
Sabtu, 05 Februari 2011
Masiyem
Pagi ini aku mengantarmu menuntut hasil jerih payah masa lalu. Rintik hujan liar menyusur keriput wajahmu, kendati tak sanggup membendung langkahmu yang sama rintiknya.
Kusisip berkasmu di keranjang antrian bersama selembar harapan, semoga kau cepat mendapat giliran. Di ruangan berukuran sepuluh kali sepuluh meter persegi itu kita menunggu, sambil memandang lewat jendela, jeruji gerimis yang percuma--tak berhasil memenjarakan apa-apa.
You have no comments to approve.
Di duniamu ini diam-diam aku merasa hangat, udaranya penuh sapa akrab dan mata yang memandang lekat-lekat. Orang-orang bicara begitu dekat, entah karena kekariban atau karena pendengaran yang perlahan mulai meninggalkan mereka.
Kucari-cari namamu di belantara suara jeritan-jeritan printer tua, desis tuts keyboard, dan amplop-amplop surat lamaran kerja yang direkat paksa. Poster-poster bisu bersuara dengan cara yang berbeda, lewat tulisan yang besar-besar atau warna-warna yang menarik perhatian, seolah sibuk berpentas di panggung yang dibuatnya sendiri. Sesekali terdengar raungan ponsel di tangan seorang pria tua yang mata dan ibu jarinya asyik menerka-nerka, dimana letak tombol penjawab kira-kira.
Dari kursi sebelah aku mengamatimu, sambil menikmati ketakutan-ketakutanku sendiri akan kecantikan dan keremajaanku yang pelan-pelan sedang dicuri waktu. Bersama kita ada belasan orang lagi yang sama denganmu, sama-sama telah dikikis masa, dan sama-sama menunggui pemenuhan angan-angan sebentar lagi. Berjuta rencana kubaca di mata mereka, mungkin mobil-mobilan baru untuk cucu kesayangan atau penebusan obat-obatan. Di matamu sendiri tertulis sebuah rencana “tersenyum riang setelah menraktir cicitku secangkir secang”.
secang = minuman rempah tradisional khas jawa tengah
Note : catatan ini adalah tentang nenek buyutku yang tadi pagi kuantar mengambil uang pensiunan :D
Rabu, 02 Februari 2011
Pagi di sebuah bingkai jendela
ada matahari yang terbit malas-malasan, udara dingin sisa hujan semalam, dua tetes embun yang berguling mesra di rerumputan, dan kita yang bertingkah persis seperti embun.
Langganan:
Postingan (Atom)