Home

Sabtu, 18 Juni 2011

Mengalamatkan Rindu

: sudah satu tahun satu minggu

Seandainya kuingat, sebaris lirik saja, dari ratusan lagu yang kau gubah untukku. Berpuluh malam lalu, mereka selalu mengejutkan, mengalun di telinga begitu saja tanpa pengawalan. Dan dentumnya segera saja, memicu jantungku seribu kali lebih cepat dari biasanya. Beruntung aku masih hidup sampai saat ini. Untuk mengingat-ingat, memikirkan dari pintu mana mereka dulu datang. Lewat jalan mana mereka pulang. Kalau mungkin bisa kutelusuri rumahnya. Ingin kutangkap senada saja. Untuk kusuntingkan di telinga. Seperti bunga tidur yang dulu sering tumbuh di kepala. Harum searoma nafasmu.

Suaramu dulu terngiang, sekarang hilang. Kadang baitbait puisimu lalu lalang, namun tak pernah ada yang menyambutnya bersulang. Pun wajahmu mulai redup di mataku. Diganti wajah baru yang berkelebat sepanjang waktu. Malam ini, sejenak aku mengenangmu. Hanya saja aku tak tahu, kemana sewajarnya aku harus mengalamatkan rindu. 

Singaraja, 25 Mei 2011

Desember

Ada kalimat yang tersesat di tenggorokanku ketika kau datang. Selusin hari sebelum bingar kembang api menjelma Januari. Meninggalkanmu di halaman belakang sebuah agenda yang pasti menua.

Bulan berganti sama rutinnya dengan wajah-wajah setelah gerimis reda, membawa mendung baru.

Tapi tidak denganmu. Kau selalu datang sendiri, tak perlu membawa serta salju sebab kebekuan sendiri adalah arti hadirmu.

Telan aku ke dalam palungmu, Desember. Dan biarkan aku menelan sebuah peta.

Beri aku satu kesempatan lagi, Desember. Satu per satu kata itu. Mereka akan kutemukan, kubimbing menuju jalan keluar. Bersama sekeranjang kejutan yang dulu kurangkai untuk hari dimana duapuluhempat lilinnya dipadamkan.

Singaraja, 4 Juni 2011

Jumat, 03 Juni 2011

Mei

Biar kutebak, kira-kira apa yang akan kau bawa kali ini. Pada kedatanganmu yang sudah begitu dekat ini. Mungkinkah sebuah hati baru? Seperti tradisi kedatanganmu sejak empat musim lalu. Mungkin sekilas kenang, sebuah pikir, pengingat mimpi-mimpi yang lama tersingkir.

Aku digerus waktu, Mei. Sementara kau mencuri umurku satu per satu. Membawa serta segerombol pemburu bersamamu.

Hutan tempat aku menyepi, kaujelma ladang perburuan. Aku letih berlari,Mei. Membawa duapuluhempat luka panah di kaki, sampai aku tak sanggup berdarah lagi.

Mei, saat kau datang lagi nanti, bawakan aku seorang pengelana, juga secawan air dari telaga mimpi sucinya untuk menggantikan darahku.

Lalu biarkan dia memiliki jantung dari jasadku

Rabu, 01 Juni 2011

September

Kurasa September adalah bulan yang tepat untuk menemuimu. Bulan yang dulu memenuhi dadaku dengan lebam biru. Namun siapa yang peduli? Mungkin saja kisah lama telah sanggup memperbarui dirinya sendiri, mempersiapkan sesuatu yang lebih manis untuk kita berdua. Dan saat itu keraguan mungkin sudah bukan milik kita lagi. Mungkin saja akan ada terlalu banyak hal untuk kita bagi. Jauh melampaui hal-hal yang perlu kita sesali.

Aku akan menengok sejenak ke belakang kepalamu, tempat dimana kau biasa menggantungkan rindu. Lalu kucocokkan dengan rindu yang kusimpan di dadaku. Mungkinkah rindu kita telah sama berkaratnya?

Memohonlah pada sepi agar tak menelan kita terburu-buru. Sebab pada bulan September nanti, akan ada satu lagi musim semi.


Singaraja, 1 Juni 2011

Marshmallow

Tak ada yang lebih menggoda selain mengecap lumeran putih di sudut bibirmu. Dan sungguh, bila aku punya cukup waktu, akan kulumat seluruhnya untuk memuaskan rinduku.

Singaraja, 31 Mei 2011

Selusin Muffin Cherry

Musim cherry sering datang terlalu cepat. Ranum merahnya bergelayut tepat di rekah senyummu, beberapa tergesa menggelincir jatuh, seakan mengancamku untuk segera memanen sisanya seperti biasa – dengan bibirku.

Dan apa yang sanggup kulakukan dengan berlimpah cherry di musim ini, sayang? Selain pelan-pelan meramunya dalam adonan, bersama rinduku yang tak bisa diam. Menata mereka rapi dalam pinggan dan menangguhkannya dalam pemanggang.

Selusin muffin cherry tengah menunggumu sebagai hidangan penutup makan malam.

Yogyakarta, 9 Mei 2011

Rindu yang Kusimpan di Kantung Celanaku

Aku tak pandai bicara, apalagi dengan bahasa sepertimu. Mulutku seolah selalu kelaparan dan berusaha menelan kembali setiap tutur yang ingin kumuntahkan. Dan kelaparan itu bertambah tiga kali lipat saat aku berjumpa denganmu.

“Kau manis” katamu.

Aku hanya tersenyum. Padahal ingin sekali kuungkap betapa senangnya aku. Setahuku laki-laki akan senang bila pujiannya dihargai.

“Kau sudah membaca puisi yang kusertakan di suratku, kan? Kau suka?” tanyamu.

Aku mengangguk dan lagi-lagi hanya tersenyum. Andai kau tahu, sesekali aku ingin bisa menulis bait-bait indah sepertimu untuk mengungkap perasaan yang begitu tak kumengerti. Sebulan tak berjumpa denganmu, hanya cukup memberiku waktu menemukan satu kata saja. Rindu. Kata yang kemudian kutulis hati-hati di selembar kertas. Kusimpan di kantung celana yang paling alpa kubuka. Berharap rindu itu terlupa dan mungkin suatu hari tercuci tanpa sengaja.

Yogyakarta, 29 Maret 2011